Camba dalam Krisis Penerangan


The Heaven of South Sulawesi, Sulawesi Selatan, SouthsulawesiArticles.blogspot.com    Patut disayangkan, sebagai pusat kota kecamatan dan sekaligus sebagai jalur lintas antar provinsi, camba mengalami krisis penerangan. Lampu jalan yang menjadi sumber penerangan jalan sudah banyak yang mati dan tampaknya dibiarkan begitu saja. Di beberapa tempat bahkan ada yang betul-betul dalam kondisi sangat menggenaskan. Gelap sama sekali tanpa ada sedikitpun sumber penerangan.
     Kenyataan ini berjalan kontradiktif dengan kenyataan yang ada. Desa patannyamang sebagai bagian dari kecamatan camba telah berhasil keluar dari lingkaran gelap yang menyelimutinya selama bertahun-tahun.  Mereka berhasil mendirikan sebuah pembangkit listrik dengan swadaya masyarakat setempat. Sebaliknya, camba sebagai kota kecamatan dengan fasilitas yang lebih memadai justru kembali terpuruk dalam kegelapan. Fasilitas lampu jalan yang ada, tampaknya hanya menjadi hiasan belaka yang tidak terurus  sama sekali.
    Pusat kota kecamatan camba tidaklah begitu luas. Dengan pola perumahan yang mengikuti pola jalan, panjangnya kurang lebih 2 km. Dari batas ke batas, setidaknya ada sekitar 20 lampu jalan yang terpasang di
pinggir jalan di sebelah kiri dan kanan. Akan tetapi, lampu jalan yang masih berfungsi dapat dihitung dengan jari. Ada sekitar 4-5 yang masih  menyala. Yang pertama terletak di depan kantor polisi kecamatan camba, di depan puskesmas camba, depan mesjid al-amin  dan mesjid raya al-jihad camba dan yang terdapat di kantor koramil camba.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa, fasilitas lampu jalan yang masih aktif adalah pada beberapa sarana atau fasilitas umum saja. dibeberapa tempat seperti di jantung kota, sekitaran lapangan Andi Baso Camba, SMPN Camba dan SDN Camba mengalami krisis penerangan yang menyedihkan. Sumber penerangan yang ada hanya berasal dari bias lampu milik warga yang terpasang di teras rumah.
    Dengan kondisi penerangan yang seadanya ini, sangat dikhawatirkan terjadinya tindak kriminilitas seperti pemalakan terhadap kendaran bermotor dan roda empat yang melintas di daerah ini. Khususnya padadaerah-daerah tertentu yang sama sekali tidak mendapatkan sumber penerangan. Misalnya dari batas kota camba hingga desa timpuseng. Di sekitar areal persawahan dan tempat-tempat gelap lainnya.
    Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama. Camba ibarat kota mati di malam hari, kota dalam krisis penerangan. Kota yang identik dengan kegelapan. Kota yang barangkali selalu berteriak untuk menunjukkan wajahnya di malam hari,  namun terikannya hanya tertahan sampai ditenggorokan. Kota dimana bulan dan bintang bisa tersenyum dengan indahnya.

 (Brur AA, Oktober 2012)

Copyright © 2010. The Heaven of South Sulawesi - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib, Proudly powered by Blogger