Budaya Siri Bugis-Makassar Sulawesi Selatan

Dalam Budaya Sulawesi Selatan dikenal adanya istilah Siri dan Pacce (siri na pacce). Budaya ini sudah mendarah daging dalam kultur masyarakat di Sulawesi Selatan. Ini akan tampak dalam bentuk karakter ataupun kepribadian dari masyarakat di Sulawesi Selatan. Meskipun dalam perkembangannya budaya siri na pace lebih diidentikkan dalam budaya bugis-makassar. Akan tetapi, budaya tersebut sebenarnya juga sudah menjadi budaya bagi setiap suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan, seperti Suku Mandar dan Toraja serta suku-suku lainnya.  Yang membedakannya hanyalah dari segi kosakatanya saja (bahasa). Sementara dalam ideology dan falsafahnya memiliki kesamaan dalam melakukan interaksi dengan masyarakat yang ada, dimanapun dan kapanpun.

Sebuah pepatah Bugis mengatakan bahwa Siri’mi Narituo yang maknanya adalah bahwa “kita dapat bertahan hidup karena adanya perasaan malu”. Siri na Pacce adalah sesuatu yang sangat diagung-agungkan dalam masyarakat Bugis-Makassar dan masyarakat lainnya di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, budaya ini telah menjadi inti dari kebudayaan di Sulawesi Selatan. Budaya ini juga telah menjadi sumber inspirasi  dan pedoman dalam menempuh kehidupan mereka.

Konsep budaya Siri na Pacce adalah suatu konsep budaya di Sulawesi Selatan yang memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi. Kejujuran, komitment, kecerdasan, kebijakan serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, prestasi, mendahuluhan kewajiban dari pada hak, malu, memiliki solidaritas tinggi dan berorientasi ke depan adalah merupakan bagian dari konsep Budaya Siri na Pacce.
Konsep siri na pace dalam Budaya Sulawesi Selatan secara umum terbagi dalam 4 (empat) kerangka pokok, yaitu:

(1) Getteng: artinya berpegang teguh pada pendirian atau memiliki komitmen yang tinggi,
(2) Lempu: memiliki kejujuran atau dapat dipercaya,
(3) Acca/ Macca: Pintar dan mudah memahami sesuatu, dan
(4) Warani: memiliki keberanian yang tinggi dalam melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip kebenaran dan kejujuran. Apabila setiap manusia dapat menerapkan keempat dari kerangka tersebut, maka ia akan menjadi manusia seutuhnya.

Selain dari konsep tersebut di atas. Beberapa ahli budaya menyebut siri dalam dua hal yaitu

(1) Siri’ Nipakasiri, artinya malu karena dipermalukan.

Dalam budaya Sulawesi Selatan, khususnya budaya Bugis-Makassar, ripakasiri/ nipakasiri (dipermalukan) adalah hilangnya kehormatan, martabat atau harga diri dari sudut pandang masyarakat. Mereka akan dikucilkan atau dijauhi dari interaksi masyarakat. Untuk mengembalikan kehormatan mereka kembali, bertarung atau mati dalam pertarugan adalah jalan terakhir yang akan ditempuh. Mati dalam pertarungan dalam budaya sulawesi selatan adalah mati dengan cara terhormat.

(2) siri’ masiri’, artinya malu karena merasa malu.

Konsep ini berhubungan dengan prestise dalam masyarakat. Semakin tinggi jabatan atau pekerjaan seseorang, maka ia akan diberikan penghormatan yang lebih tinggi dari masyarakat. Biasaya konsep Siri’ Masiri akan membawa nama keluarga, kelompok atau golongan tertentu dalam masyarakat. Dalam pepatah Bugis mengatakan bahwa “narekko sompe’ ko, aja’ muancaji ana’ guru, ancaji ponggawako” Artinya, Jika engkau merantau ke negeri orang, maka janganlah engkau menjadi bawahan, akan tetapi engkau harus menjadi seorang Pemimpin”. 

(Brur AA, Makassar Oktober 2012)

1 Submit your comment here::

Siri na Pace ini sepertina berlaku juga di seluruh Indonesia


http://www.marketingkita.com/2017/08/Manajemen-Sumber-Daya-Manusia-Dalam-Ilmu-Marketing.html

Balas

Copyright © 2010. The Heaven of South Sulawesi - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib, Proudly powered by Blogger